Sudirman, calon haji penyandang disabilitas asal Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, akhirnya menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Ia berhaji dengan menggunakan uang simpanan dari hasil berjualan pulsa.
Setelah menunggu selama 12 tahun, Sudirman yang mengumpulkan Rp 20 ribu per hari dari berjualan pulsa akhirnya terbang dari kampung halaman dan tiba di Madinah. “Jual pulsa, setiap ada lebih saya tabung minimal Rp 20 ribu sehari, dikumpulin. Dibantu orang tua juga,” kata bapak satu anak itu.
Ia berangkat ke Tanah Suci bersama tantenya, sedangkan sang istri belum mendapatkan panggilan untuk berhaji. Dengan kondisinya yang terbatas karena postur tubuhnya yang kecil tidak seperti orang lain, ia merasa sangat terbantu selama beribadah di Tanah Suci, banyak yang membantu dan sudah layaknya keluarga.
Namun Sudirman tidak mau diperlakukan seperti orang yang tidak mampu karena kondisi tubuhnya. Ia ingin diperlakukan seperti layaknya jamaah haji lain.
===
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP). Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013. Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1.Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2.Lolos Uji Kompetensi.
3.Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4.Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional.
Anna-Lena Forster: Atlet Paralimpik Ski Monoski Jerman
Perjalanan Hidup dan Awal Karier Anna-Lena Forster lahir pada 15 Juni 1995 di Radolfzell, Jerman. Sejak kecil ia menghadapi tantangan medis, dengan...




