Semangat tak pantang menyerah harus menjadi moto hidup semua orang jika ingin sukses. Seperti Salim Harama, warga Dusun Pogung Lor, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Seusai menjadi korban kecelakaan kereta api pada 1979, kedua tanganya harus diamputasi. Meski keterbatasan fisik namun karya lukisnya cukup tersohor di Indonesia. Pria kelahiran Boyolali 27 Juli 1968 mampu melukis dengan kedua kakinya. Saat ditemui, dirinya sedang membuat lukisan bertemakan ‘Demokrasi Amplop’. Dirinya pun berpikir, bahwa ia memiliki bakat melukis.
Namun, tidak mudah melukis dengan kaki, karena kelenturan kaki berbeda dengan tangan. Ia kemudian membaca buku, dari temannya lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Salim pun rajin menghadiri pameran untuk mengetahui cara melukis. Setelah mulai melukis, dirinya lantas berkeinginan bergabung dengan Association of Mouth and Foot Painting (AMFPA). Untuk masuk ke sana tidak mudah, dirinya harus melukis belasan karya dan dikirimkan. Saat berhasil bergabung dengan AMFPA, Salim diminta untuk mengirimkan karya-karyanya ke AMFPA ia harus mengirimkan 15 karya lukisan dalam 3 tahun.
===
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP). Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013. Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1.Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2.Lolos Uji Kompetensi.
3.Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4.Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional





