Keterbatasan fisik tidaklah menjadi penghalang bagi Sabar Subadri untuk berkarya. Tanpa kedua lengan, Sabar mampu menghasilkan karya-karya lukisan yang sekarang sudah ratusan jumlahnya. Dengan menggunakan kakinya, dia mengguratkan kuas di atas kanvas.
Kegemaran melukis sudah dimulai sejak Sabar masih kecil. Saat itu, Sabar senang mencoret-coret di kertas. Hobi tersebut mendapat dukungan dari keluarga dan guru-guru di sekolahnya. Pada usia sepuluh tahun, Sabar mulai sungguh-sungguh melukis. Untuk meningkatkan kemampuan teknisnya dalam seni lukis, anak bungsu dari tiga bersaudara ini sempat belajar pada seorang pelukis senior di kotanya, Salatiga.
Sekarang sudah banyak lukisan yang Sabar hasilkan . Untuk menyalurkan hasil lukisannya tersebut, Sabar menjadi anggota Yayasan AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artist). Yayasan tersebut khusus menampung karya lukisan penyandang cacat yang tidak memiliki kedua lengan. Karya mereka lalu dikirim ke kantor pusatnya di Swiss. AMFPA juga mereproduksi lukisan-lukisan itu menjadi kartu lebaran, kartu natal dan kalender. Dari situlah para pelukis mendapatkan Honor.
===
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP). Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013. Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1.Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2.Lolos Uji Kompetensi.
3.Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4.Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional.





