Bagi banyak orang, prostetik untuk perempuan bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu berjalan atau beraktivitas. Prostetik juga berkaitan dengan rasa percaya diri, citra tubuh, dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, kebutuhan perempuan penyandang amputasi sering kali berbeda dibandingkan laki-laki.
Hal tersebut dialami oleh Army Spc. Cherdale Allen, seorang prajurit aktif di bagian pasokan medis yang sedang menjalani rehabilitasi di Center for the Intrepid, Brooke Army Medical Center (BAMC), Texas. Setelah kehilangan kaki kiri bagian bawah lutut akibat kanker, Allen memiliki satu tujuan sederhana, yaitu kembali mengenakan sepatu hak tinggi favoritnya.
Prostetik untuk Perempuan Tidak Hanya Soal Fungsi
Allen mengaku selalu menyukai sepatu hak tinggi.
“Hak sepatu saya biasanya 4 inci ke atas,” ujarnya sambil tertawa. “Saya suka merasa cantik.”
Bagi Allen, memakai sepatu hak tinggi bukan sekadar mengikuti tren fesyen. Hal tersebut menjadi bagian dari identitas dirinya sebagai seorang perempuan.
Keinginan itulah yang mendorong tim ahli prostetik di BAMC untuk merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Estetika Menjadi Kebutuhan Penting
Peneliti prostetik BAMC, Andrea Ikeda, menjelaskan bahwa perempuan sering kali memiliki kebutuhan yang lebih kompleks dibanding sekadar kemampuan berjalan.
Banyak pasien ingin prostetik yang terlihat alami. Bentuk, ukuran, hingga warna kulit menjadi perhatian agar prostetik tampak serasi dengan anggota tubuh lainnya.
Menurut Ikeda, aspek tersebut sangat penting karena dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membantu pasien beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.
Tiga Prostetik untuk Aktivitas Berbeda
Untuk memenuhi kebutuhan Allen, tim rehabilitasi menyiapkan tiga jenis kaki prostetik yang memiliki fungsi berbeda, yaitu:
- Prostetik untuk berjalan sehari-hari.
- Prostetik khusus berlari.
- Prostetik yang dirancang untuk digunakan bersama sepatu hak tinggi.
Selain itu, setiap prostetik akan dilengkapi penutup berwarna kulit agar tampil lebih natural ketika digunakan bersama pakaian formal.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa prostetik untuk perempuan kini semakin memperhatikan kebutuhan personal setiap pasien.
Tantangan pada Prostetik Tangan
Tidak hanya prostetik kaki yang membutuhkan perhatian khusus. Prostetik tangan juga memiliki tantangan tersendiri.
Banyak perempuan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil sehingga prostetik dengan ukuran standar sering kali terasa terlalu besar atau berat.
Selama bertahun-tahun, pilihan ukuran tangan prostetik memang terbatas. Namun, perkembangan teknologi mulai menghadirkan solusi baru.
Ikeda menceritakan bahwa dirinya baru saja menggunakan tangan prostetik berukuran extra-small untuk seorang pasien perempuan. Hasilnya dinilai jauh lebih proporsional dan nyaman dibanding ukuran sebelumnya.
Faktor Biologis Juga Perlu Dipertimbangkan
Perempuan memiliki kondisi biologis yang memengaruhi penggunaan prostetik. Salah satu contohnya adalah kehamilan.
Perubahan berat badan selama masa kehamilan dapat mengubah bentuk sisa anggota tubuh. Akibatnya, socket atau bagian prostetik yang menempel pada tubuh mungkin tidak lagi pas.
Karena setiap socket dibuat secara khusus sesuai kondisi masing-masing pasien, penyesuaian perlu dilakukan agar prostetik tetap nyaman dan berfungsi dengan baik.
Industri Prostetik Terus Berkembang
Seiring meningkatnya peran perempuan di berbagai bidang, termasuk militer, kebutuhan akan prostetik yang lebih inklusif juga semakin besar.
Para ahli berharap produsen terus menghadirkan inovasi, seperti kaki prostetik dengan tinggi hak yang dapat disesuaikan dan tangan prostetik dengan pilihan ukuran yang lebih beragam.
Inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan fungsi prostetik, tetapi juga membantu penyandang amputasi mempertahankan identitas, kenyamanan, dan rasa percaya diri.
Prostetik untuk Perempuan Mendukung Kualitas Hidup
Bagi Cherdale Allen, prostetik bukan hanya alat bantu untuk berjalan. Prostetik juga menjadi bagian dari dirinya sebagai seorang perempuan.
“Saya masih ingin merasa sebagai seorang perempuan, merasa percaya diri, dan berdandan. Saya ingin terus menjalani hidup seperti sebelumnya,” ungkap Allen.
Kisah Allen menunjukkan bahwa perkembangan prostetik untuk perempuan tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan bergerak. Kini, teknologi juga berusaha memenuhi kebutuhan estetika, kenyamanan, dan kualitas hidup para penyandang amputasi sehingga mereka dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih percaya diri.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
