Abena Christine Jon’el, model dan penulis keturunan Ghana-Amerika, menarik perhatian di panggung fashion Ghana. Ia tampil dengan kaki prostetik yang dibalut kain bermotif Afrika penuh warna.
Penampilan tersebut bukan sekadar bagian dari gaya fashion. Bagi Abena, prostetik menjadi simbol identitas, keberanian, dan penerimaan terhadap disabilitas.
Abena Jon’el dan Perjalanan Hidupnya
Abena didiagnosis rhabdomyosarcoma, yaitu kanker jaringan lunak yang agresif, ketika berusia dua tahun. Saat itu, keluarganya harus menghadapi keputusan medis yang sulit.
Ibunya harus memilih antara menjalani radiasi atau melakukan amputasi. Setelah mempertimbangkan risikonya, amputasi dipilih sebagai langkah terbaik untuk Abena.
Kini, Abena melihat keputusan tersebut sebagai bagian penting dari hidupnya. Ia merasa prostetik justru membantunya memiliki kebebasan untuk bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Menolak Stereotip Penyandang Disabilitas
Sejak kecil, Abena tidak ingin dirinya dipandang hanya berdasarkan kondisi fisiknya. Ia juga menolak gambaran tentang anak dengan disabilitas yang selalu dianggap pendiam, lembut, atau harus terlihat sempurna.
Abena tumbuh sebagai pribadi yang berani dan memiliki karakter kuat. Ia tidak membiarkan kondisi fisiknya menentukan siapa dirinya.
Menurutnya, pengalaman hidup dengan disabilitas justru membentuk mental yang lebih kuat. Berbagai tantangan membuatnya belajar untuk mempertahankan dirinya dan berani menghadapi lingkungan sekitar.
Abena Membawa Pesan Disabilitas ke Dunia Fashion
Setelah pindah dari Amerika Serikat ke Ghana, Abena menggunakan kariernya sebagai model dan pembicara publik untuk meningkatkan visibilitas penyandang disabilitas.
Salah satu caranya adalah dengan tampil di atas runway sambil memperlihatkan prostetiknya.
Abena bahkan membalut kaki prostetik tersebut menggunakan kain tradisional Afrika. Pilihan tersebut membuat penampilannya semakin menarik sekaligus membawa pesan yang lebih dalam.
Baginya, disabilitas tidak seharusnya disembunyikan. Disabilitas merupakan bagian dari identitas seseorang yang layak diterima dan dirayakan.
Fashion sebagai Bentuk Ekspresi Diri
Bagi Abena, tampil di runway bukan hanya tentang pakaian. Fashion menjadi ruang untuk menunjukkan siapa dirinya dan bagaimana ia memandang tubuhnya.
Dengan memperlihatkan prostetik yang dihiasi kain bermotif Afrika, Abena menunjukkan bahwa seseorang dengan disabilitas juga memiliki kebebasan untuk berekspresi.
Penampilannya sekaligus menjadi pengingat bahwa dunia fashion dapat menjadi ruang yang lebih inklusif bagi berbagai bentuk tubuh dan kondisi fisik.
Mendorong Visibilitas Penyandang Disabilitas
Perjalanan Abena Jon’el menunjukkan bahwa representasi penyandang disabilitas memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya.
Melalui dunia fashion, ia berusaha mengubah cara masyarakat melihat disabilitas. Ia ingin penyandang disabilitas tidak hanya dipandang sebagai seseorang yang membutuhkan bantuan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan hak untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Kehadiran Abena di runway Ghana menjadi salah satu bentuk nyata dari pesan tersebut. Ia membuktikan bahwa prostetik tidak harus menjadi sesuatu yang disembunyikan.
Sebaliknya, prostetik dapat menjadi bagian dari identitas dan cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Abena Jon’el dan Pesan tentang Keberanian
Kisah Abena Jon’el menjadi contoh bagaimana pengalaman hidup dapat diubah menjadi kekuatan. Dari perjuangan menghadapi kanker sejak usia dini hingga tampil sebagai model dengan prostetik, ia terus menunjukkan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Melalui fashion dan aktivitas publik, Abena membawa pesan bahwa disabilitas bukan batas untuk berkarya.
Penampilannya di Ghana tidak hanya menarik perhatian karena keunikan fashion, tetapi juga karena pesan tentang penerimaan diri, representasi, dan keberagaman yang dibawanya.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
