Teknologi kaki bionik terus berkembang untuk membantu penyandang amputasi mendapatkan kembali fungsi dan sensasi anggota tubuh yang hilang. Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah neuroprostesis SENSY, yang dirancang untuk memberikan sensasi sentuhan dan gerakan melalui stimulasi langsung pada saraf.
Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat mengatasi salah satu keterbatasan utama prostesis konvensional, yaitu tidak adanya umpan balik sensorik kepada pengguna.
Keterbatasan Prostesis Konvensional
Prostesis yang tersedia saat ini umumnya dapat membantu seseorang berjalan dan melakukan berbagai aktivitas. Namun, perangkat tersebut biasanya tidak dapat memberikan sensasi sentuhan atau gerakan secara alami kepada penggunanya.
Akibatnya, pengguna prostesis harus mengandalkan anggota tubuh yang masih utuh ketika berjalan. Kondisi tersebut dapat membuat pola berjalan menjadi tidak seimbang.
Dalam jangka panjang, pola berjalan yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti radang sendi, osteoporosis, nyeri punggung, serta kelelahan.
Selain itu, tidak adanya hubungan langsung antara prostesis dan sistem saraf juga dapat berkaitan dengan munculnya phantom limb pain, yaitu sensasi tidak nyaman yang terasa seolah-olah berasal dari anggota tubuh yang telah diamputasi.
Kaki Bionik yang Terhubung dengan Sistem Saraf
Untuk mengatasi masalah tersebut, proyek SensAgain yang didanai oleh Uni Eropa mengembangkan neuroprostesis SENSY.
Teknologi ini dikembangkan oleh SensArs Neuroprosthetics. Sebelumnya, teknologi SENSY telah dikembangkan melalui proyek NEBIAS untuk membantu penyandang amputasi tangan merasakan kembali sensasi dari anggota tubuh yang hilang.
Teknologi tersebut kemudian disesuaikan untuk digunakan pada prostesis kaki.
Menurut Francesco Petrini, salah satu pendiri sekaligus CEO SensArs Neuroprosthetics, kunci untuk menciptakan prostesis yang lebih alami adalah menghubungkannya dengan saraf perifer yang masih berfungsi setelah amputasi.
Dengan hubungan tersebut, informasi dari prostesis dapat diteruskan ke sistem saraf dan kemudian diproses oleh otak.
Bagaimana Teknologi SENSY Bekerja?
Sistem SENSY menggunakan beberapa komponen utama. Salah satunya adalah insole atau alas kaki khusus yang ditempatkan pada bagian bawah kaki prostesis.
Insole tersebut memiliki sensor yang dapat mendeteksi tekanan pada kaki. Sementara itu, sistem lainnya menerima informasi mengenai pergerakan kaki prostesis.
Informasi tersebut kemudian diteruskan ke pengontrol eksternal. Setelah itu, data diubah menjadi sinyal yang dapat diteruskan melalui sistem stimulasi yang ditanamkan pada tubuh dan terhubung dengan saraf pasien.
Sistem tersebut mengirimkan impuls listrik kecil ke saraf.
Sinyal kemudian diteruskan menuju otak. Dengan proses ini, pengguna dapat merasakan sensasi yang berkaitan dengan sentuhan dan gerakan kaki prostesis.
Dengan kata lain, teknologi SENSY berusaha membuat prostesis berkomunikasi dengan sistem saraf menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh tubuh.
Hasil Uji Klinis Kaki Bionik
Prototipe SENSY telah melalui uji klinis awal yang melibatkan tiga penyandang amputasi anggota tubuh bagian bawah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi tersebut mampu memberikan sensasi yang cukup beragam kepada para peserta.
Pasien dilaporkan dapat merasakan sensasi sentuhan dari lebih dari 20 lokasi pada telapak kaki. Mereka juga dapat merasakan kontraksi dari empat otot pada kaki.
Sensasi tersebut berasal dari sensor yang dipasang pada prostesis.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dapat menggunakan prostesis dengan lebih percaya diri. Sensasi yang diberikan juga membantu meningkatkan mobilitas dan mengurangi risiko kehilangan keseimbangan.
Menariknya, para peserta merasa bahwa prostesis tersebut lebih seperti bagian dari tubuh mereka dibandingkan perangkat eksternal.
Hal ini menjadi salah satu keunggulan penting dari teknologi kaki bionik karena pengguna tidak hanya mendapatkan bantuan untuk bergerak, tetapi juga memperoleh informasi sensorik dari prostesis.
Potensi untuk Meningkatkan Mobilitas
Kembalinya sensasi dari anggota tubuh yang hilang dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengguna prostesis.
Dengan adanya informasi mengenai tekanan dan gerakan, otak dapat memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai posisi serta aktivitas kaki prostetik.
Hal tersebut berpotensi membuat pengguna lebih mudah mengendalikan prostesis dalam berbagai situasi.
Selain membantu mobilitas, teknologi ini juga diharapkan dapat mengurangi beban mental ketika seseorang harus mengendalikan prostesis.
Pengguna tidak perlu sepenuhnya bergantung pada penglihatan untuk mengetahui bagaimana posisi kaki prostetik saat berjalan.
Masa Depan Teknologi Kaki Bionik
Pengembangan SENSY menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi medis mulai menggabungkan perangkat prostetik dengan sistem saraf manusia.
Pendekatan tersebut dapat membuka peluang untuk menciptakan prostesis yang terasa lebih alami dan lebih mudah digunakan.
SensArs juga memperoleh pendanaan tambahan dari Komisi Eropa melalui proyek GoSafe. Pengembangan selanjutnya mencakup penyelesaian prototipe industri, pengujian, serta uji klinis dalam skala yang lebih besar.
Jika pengembangan dan proses sertifikasi berhasil dilakukan, teknologi seperti SENSY berpotensi menjadi bagian dari masa depan prostesis untuk penyandang amputasi.
Kesimpulan
Kaki bionik SENSY menawarkan pendekatan baru dalam teknologi prostesis dengan menghubungkan perangkat buatan dengan sistem saraf manusia.
Melalui sensor dan stimulasi saraf, pengguna berpotensi mendapatkan kembali sensasi sentuhan dan gerakan dari anggota tubuh yang telah hilang.
Meski masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, teknologi ini menunjukkan bahwa prostesis masa depan tidak hanya dapat membantu seseorang bergerak, tetapi juga berpotensi memberikan kembali sebagian sensasi yang sebelumnya hilang.
