Teknologi prostetik terus berkembang untuk membantu orang yang kehilangan anggota tubuh. Salah satu inovasi yang menarik adalah tangan bionik yang tidak hanya dapat melakukan gerakan, tetapi juga memberikan sensasi sentuhan kepada penggunanya.
Teknologi ini pernah diuji pada Dennis Aabo Sorensen, seorang pria yang kehilangan tangan kirinya akibat kecelakaan. Melalui sebuah prototipe bernama LifeHand 2, Sorensen dapat merasakan benda yang disentuh oleh tangan prostetik.
Tangan Bionik Terhubung dengan Saraf
Berbeda dari tangan prostetik biasa, LifeHand 2 dirancang untuk berkomunikasi langsung dengan sistem saraf pengguna.
Dalam penelitian tersebut, elektroda berukuran sangat kecil ditanam pada saraf median dan ulnar di bagian tangan Sorensen. Elektroda tersebut kemudian dihubungkan dengan tangan robotik yang memiliki berbagai sensor.
Teknologi ini memungkinkan informasi dari sensor diterjemahkan menjadi sinyal listrik. Sinyal tersebut kemudian diteruskan ke saraf sehingga pengguna dapat merasakan sensasi tertentu.
Bisa Merasakan Sentuhan dengan Mata Tertutup
Salah satu kemampuan menarik dari teknologi ini adalah memberikan umpan balik sensorik.
Sebelumnya, tangan prostetik dapat membantu pengguna melakukan gerakan. Namun, pengguna biasanya harus mengandalkan penglihatan untuk mengetahui apakah mereka sudah memegang benda dengan tepat.
LifeHand 2 menawarkan pendekatan berbeda. Dengan adanya sensor dan koneksi ke saraf, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai benda yang disentuh tanpa harus selalu melihat tangannya.
Dalam pengujian, Sorensen mampu mengenali beberapa karakteristik benda hanya melalui sensasi yang diterima dari tangan bionik.
Mengenali Bentuk dan Tingkat Kekakuan Benda
Sensor pada tangan bionik dapat mendeteksi tekanan yang diberikan pada benda. Informasi tersebut kemudian diproses oleh sistem komputer sebelum diteruskan sebagai sinyal ke saraf.
Hasilnya, Sorensen dapat merasakan perbedaan tertentu saat menyentuh berbagai benda.
Ia mampu mengenali bentuk dasar, seperti bentuk silinder. Ia juga dapat merasakan perbedaan tingkat kekakuan antara buah jeruk mandarin dan bola baseball.
Kemampuan tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan prostesis yang lebih responsif.
Perkembangan dari LifeHand 1 ke LifeHand 2
LifeHand 2 merupakan pengembangan dari sistem sebelumnya, yaitu LifeHand 1.
Versi awal yang diperkenalkan pada 2009 masih memiliki keterbatasan. Sistemnya belum menggunakan elektroda yang ditanam langsung di dalam tubuh seperti pada LifeHand 2.
Pengembangan berikutnya membuat hubungan antara prostesis dan sistem saraf menjadi lebih langsung. Hal ini membuka peluang untuk menciptakan tangan prostetik yang memberikan pengalaman lebih mirip dengan fungsi tangan manusia.
Masih Memiliki Keterbatasan
Meskipun hasil penelitian terlihat menjanjikan, teknologi tangan bionik tersebut masih berada pada tahap pengembangan.
Sistem yang diuji belum mampu memberikan semua jenis sensasi. Para peneliti masih perlu mengembangkan teknologi agar pengguna dapat membedakan tekstur dengan lebih detail.
Sensasi seperti panas dan dingin juga menjadi tantangan berikutnya.
Selain itu, komponen dan kabel pada prototipe masih perlu dikembangkan agar sistem dapat digunakan dengan lebih praktis di luar lingkungan laboratorium.
Tantangan Penggunaan Jangka Panjang
Salah satu tantangan utama adalah memastikan elektroda dan sistem prostetik dapat digunakan dalam tubuh untuk waktu yang lama.
Para peneliti ingin mengetahui apakah sistem tersebut tetap aman dan berfungsi dengan baik selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Karena itu, penelitian lebih lanjut dan uji klinis dengan lebih banyak peserta masih diperlukan.
Studi awal pada satu pasien memberikan hasil yang menarik. Namun, penelitian dengan jumlah peserta yang lebih banyak dibutuhkan untuk mengetahui apakah teknologi tersebut dapat bekerja secara konsisten.
Masa Depan Tangan Bionik
Perkembangan tangan bionik menunjukkan bagaimana robotika, ilmu saraf, dan teknologi komputer dapat digabungkan untuk menciptakan prostesis yang semakin canggih.
Jika teknologi ini terus dikembangkan, tangan prostetik di masa depan mungkin tidak hanya mampu melakukan gerakan. Perangkat tersebut juga dapat memberikan informasi mengenai benda yang disentuh.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan prostesis yang lebih intuitif dan dapat membantu pengguna melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
