Prostesis lengan menjadi salah satu alat yang dapat membantu seseorang beraktivitas setelah kehilangan anggota tubuh. Namun, prostesis bukan selalu menjadi solusi untuk setiap kegiatan.
Hal tersebut dialami oleh Miles O’Brien, seorang reporter sains yang kehilangan lengan kirinya akibat kecelakaan. Setelah kejadian tersebut, ia harus belajar menyesuaikan diri dengan berbagai aktivitas sehari-hari.
Belajar Beradaptasi Setelah Kehilangan Lengan
Sebelum mengalami amputasi, Miles pernah membuat laporan tentang perkembangan teknologi bionik. Ia melihat bagaimana robotika, ilmu saraf, dan teknologi prostetik berusaha menciptakan anggota tubuh buatan yang semakin canggih.
Namun, setelah kehilangan lengannya sendiri, pandangannya berubah.
Dalam proses rehabilitasi, Miles belajar bahwa ia tidak harus selalu mencari pengganti sempurna untuk lengan yang hilang. Sebaliknya, ia mulai mencari cara baru untuk menyelesaikan berbagai aktivitas.
Melakukan Aktivitas dengan Satu Tangan
Miles menemukan bahwa banyak kegiatan sehari-hari tetap dapat dilakukan dengan satu tangan.
Saat berpakaian, ia belajar mengancingkan kemeja dan mengikat tali sepatu. Di dapur, ia menggunakan talenan dengan fitur penahan agar benda tidak mudah bergerak.
Ia juga menggunakan bahan khusus untuk menjaga botol dan piring tetap berada di tempatnya ketika digunakan.
Cara-cara sederhana tersebut membantunya menjadi lebih mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Menggunakan Prostesis Lengan untuk Aktivitas Tertentu
Miles tidak selalu menggunakan prostesis lengan. Menurut pengalamannya, prostesis dapat terasa panas dan kurang nyaman sehingga tidak selalu digunakan.
Namun, perangkat tersebut tetap berguna untuk kegiatan tertentu.
Saat melakukan perjalanan jauh dengan mobil, misalnya, prostesis dapat membantu menjaga posisi tangan pada kemudi. Ketika bekerja di lapangan, prostesis juga dapat membantu memegang kamera serta mengatur peralatan seperti lampu dan tripod.
Hal ini menunjukkan bahwa satu jenis prostesis belum tentu cocok untuk semua aktivitas.
Teknologi Bukan Satu-Satunya Solusi
Pengalaman Miles membuatnya semakin memahami kemampuan tubuh manusia. Ia menyadari bahwa tangan yang tersisa dapat melakukan banyak hal jika dipadukan dengan teknik dan alat bantu yang tepat.
Di sisi lain, teknologi prostetik juga memiliki keterbatasan.
Prostesis terus berkembang, tetapi belum dapat menggantikan seluruh fungsi tangan manusia. Karena itu, pengguna perlu menemukan kombinasi antara prostesis, alat bantu, dan cara beradaptasi yang paling sesuai.
Tetap Aktif Setelah Amputasi
Kehilangan lengan tidak membuat Miles berhenti melakukan berbagai kegiatan. Ia tetap berolahraga dan mencoba aktivitas seperti bersepeda serta menyelam.
Ia juga terus mencari perangkat dan teknik yang dapat membantunya kembali melakukan aktivitas yang disukai.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses adaptasi setiap orang dapat berbeda. Dibutuhkan waktu untuk menemukan cara yang paling nyaman dan sesuai dengan kebutuhan.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
