Perkembangan teknologi prostetik semakin pesat. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah lengan bionik yang dikendalikan dengan pikiran. Teknologi ini memungkinkan penyandang amputasi menggerakkan prostesis dengan memanfaatkan sinyal saraf yang masih ada di dalam tubuh.
Salah satu teknologi yang berperan penting dalam perkembangan tersebut adalah targeted muscle reinnervation (TMR) atau reinnervasi otot yang ditargetkan. Metode ini membantu menghubungkan kembali saraf yang sebelumnya mengendalikan anggota tubuh yang hilang ke otot lain yang masih sehat.
Kisah Claudia Mitchell dan Lengan Bioniknya
Claudia Mitchell mengalami kecelakaan sepeda motor pada Mei 2004 ketika berusia 23 tahun. Kecelakaan tersebut menyebabkan lengan kirinya mengalami cedera parah hingga harus diamputasi.
Setelah kehilangan lengannya, Claudia harus beradaptasi dengan berbagai aktivitas sehari-hari. Namun, perkembangan teknologi prostetik kemudian membuka peluang baru baginya.
Claudia menjalani prosedur TMR yang dikembangkan melalui penelitian Todd Kuiken, MD, Ph.D., seorang ahli teknik dan kedokteran yang berfokus pada teknologi anggota tubuh buatan.
Kini, dengan bantuan lengan bionik, Claudia dapat melakukan berbagai aktivitas seperti melipat pakaian, mengupas pisang, membuka toples, hingga menahan mangkuk saat mengaduk makanan.
Hal menariknya, beberapa gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memikirkan gerakan yang ingin dilakukan.
Bagaimana Lengan Bionik Dikendalikan dengan Pikiran?
Pada kondisi normal, otak mengirimkan sinyal melalui saraf untuk menggerakkan otot. Ketika seseorang mengalami amputasi, jalur saraf yang sebelumnya terhubung dengan anggota tubuh tersebut masih dapat membawa informasi gerakan.
Masalahnya, saraf tersebut tidak lagi memiliki otot tujuan seperti sebelumnya.
Melalui targeted muscle reinnervation, dokter memindahkan saraf yang masih sehat ke otot lain, misalnya otot di bagian dada. Setelah saraf tumbuh dan terhubung dengan otot baru, sinyal dari saraf dapat kembali digunakan.
Proses ini membuat otot berfungsi seperti penguat biologis. Ketika seseorang membayangkan gerakan tertentu, sinyal saraf akan mengaktifkan otot. Elektroda kemudian mendeteksi sinyal tersebut dan meneruskannya ke sistem prostesis.
Sebagai contoh, ketika pengguna membayangkan menekuk siku, sinyal tersebut dapat diterjemahkan menjadi gerakan pada lengan prostetik.
Teknologi TMR Membantu Membuat Gerakan Lebih Alami
Pada tahap awal, teknologi ini digunakan untuk mengendalikan gerakan dasar, seperti membuka dan menutup tangan atau menggerakkan lengan ke atas dan ke bawah.
Para peneliti kemudian mengembangkan sistem pengenalan pola menggunakan algoritma komputer. Teknologi tersebut bertujuan membaca berbagai sinyal otot dan saraf secara lebih detail.
Dengan perkembangan ini, pengguna prostesis diharapkan dapat melakukan gerakan yang lebih kompleks. Misalnya, memilih cara menggenggam suatu benda sesuai dengan kebutuhan.
Pengembangan tersebut menjadi langkah penting untuk menciptakan prostesis yang terasa lebih alami dan mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
TMR Juga Berpotensi Mengurangi Nyeri Fantom
Selain membantu mengendalikan prostesis, reinnervasi otot yang ditargetkan juga dikembangkan sebagai pendekatan untuk mengatasi masalah yang sering dialami penyandang amputasi, yaitu nyeri fantom.
Nyeri fantom adalah sensasi nyeri atau rasa tidak nyaman yang terasa seolah-olah berasal dari anggota tubuh yang sudah tidak ada.
Setelah amputasi, ujung saraf dapat membentuk neuroma. Kondisi tersebut dapat menyebabkan rasa sakit. Dengan menghubungkan kembali saraf ke otot yang masih sehat, dokter berharap masalah tersebut dapat dikurangi.
Namun, prosedur TMR tetap memiliki risiko. Nyeri fantom dapat muncul kembali atau menjadi lebih buruk untuk sementara setelah operasi. Selain itu, saraf membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk tumbuh dan berfungsi pada otot yang baru.
Teknologi Prostetik Mulai Mengembangkan Indra Peraba
Selain menghasilkan gerakan, para peneliti juga berusaha membuat prostesis mampu memberikan sensasi kepada penggunanya.
Pada penelitian tertentu, pengguna prostesis dapat merasakan sensasi yang muncul pada area tubuh tempat saraf dipindahkan. Penelitian selanjutnya berupaya mengembangkan sistem yang dapat meneruskan informasi tersebut ke prostesis.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan anggota tubuh buatan yang tidak hanya dapat bergerak, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih mirip dengan anggota tubuh alami.
Masa Depan Prostesis Semakin Menjanjikan
Perkembangan lengan bionik yang dikendalikan dengan pikiran menunjukkan bahwa teknologi medis dapat membantu penyandang amputasi memperoleh kemandirian yang lebih besar.
Penelitian mengenai TMR, sensor, algoritma komputer, dan sistem umpan balik terus berkembang. Kombinasi berbagai teknologi tersebut dapat membuat prostesis semakin responsif dan mudah digunakan.
Teknologi ini juga membuka peluang bagi orang yang kehilangan anggota tubuh sejak lahir. Para peneliti menemukan bahwa otak mampu beradaptasi dengan sistem prostetik, bahkan pada orang yang sebelumnya tidak pernah memiliki tangan atau pergelangan tangan.
Meski masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, lengan bionik menjadi salah satu contoh bagaimana ilmu kedokteran, teknik, dan teknologi komputer dapat bekerja bersama.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
