Transfemoral prosthesis merupakan salah satu jenis prostesis yang digunakan untuk membantu seseorang yang mengalami amputasi pada tungkai di atas lutut. Amputasi dapat memengaruhi kemampuan berjalan, aktivitas sehari-hari, kepercayaan diri, serta proses adaptasi seseorang terhadap perubahan fisiknya.
Pada kondisi tersebut, prostesis dapat menjadi salah satu alat bantu untuk mendukung fungsi gerak. Selain membantu mobilitas, penggunaan prostesis juga dapat membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.
Salah satu kegiatan yang membahas penggunaan transfemoral prosthesis dilakukan oleh Jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Kemenkes Surakarta melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sragen. Kegiatan tersebut berfokus pada pemberian layanan prostesis sekaligus pendampingan penggunaan prostesis bagi masyarakat pasca amputasi.
Tujuan Pemberian Transfemoral Prosthesis
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan alat bantu berupa kaki palsu. Selain itu, pendampingan dilakukan untuk membantu pasien beradaptasi dengan kondisi fisik setelah mengalami amputasi.
Beberapa tujuan utama kegiatan tersebut meliputi:
- Memberikan layanan pembuatan transfemoral prosthesis kepada pasien pasca amputasi.
- Membantu meningkatkan kemampuan berjalan.
- Membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.
- Memberikan edukasi mengenai penggunaan dan perawatan prostesis.
- Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri pasien.
- Memantau kenyamanan dan kemampuan pasien dalam menggunakan prostesis.
Dengan demikian, pemberian prostesis diharapkan tidak hanya memberikan manfaat secara fisik, tetapi juga membantu pasien dalam proses adaptasi.
Dampak Amputasi terhadap Kehidupan Pasien
Kehilangan anggota tubuh tidak hanya memberikan dampak secara fisik. Selain itu, pasien pasca amputasi dapat mengalami perubahan pada citra tubuh dan kondisi psikologis.
Keterbatasan dalam bergerak dapat menyebabkan seseorang kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan secara mandiri. Oleh karena itu, proses pemulihan tidak cukup hanya dengan memberikan prostesis, tetapi juga membutuhkan edukasi dan pendampingan.
Komunikasi yang baik antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan juga menjadi salah satu faktor penting dalam membantu pasien beradaptasi dengan prostesis.
Dengan adanya komunikasi dan pendampingan yang baik, pasien dapat lebih memahami cara menggunakan alat serta mengetahui cara mengatasi kendala yang mungkin muncul.
Tahapan Pembuatan Transfemoral Prosthesis
Pembuatan transfemoral prosthesis dilakukan melalui beberapa tahapan. Setiap tahap memiliki tujuan tertentu agar prostesis yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
1. Pemeriksaan Pasien
Tahap pertama adalah pemeriksaan kondisi pasien. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi umum pasien, kondisi stump atau bagian tungkai yang tersisa, serta kebutuhan pasien.
Selanjutnya, hasil pemeriksaan digunakan sebagai dasar untuk menentukan jenis prostesis yang sesuai.
2. Measurement atau Pengukuran
Setelah pemeriksaan, dilakukan measurement atau pengukuran.
Pengukuran dilakukan secara teliti untuk mendapatkan data yang akurat. Data tersebut kemudian digunakan sebagai acuan dalam menentukan ukuran prostesis.
Dengan demikian, ukuran prostesis dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien.
3. Casting
Tahap berikutnya adalah casting. Proses ini dilakukan untuk membuat cetakan negatif dari bagian tubuh pasien yang akan digunakan sebagai dasar pembuatan socket.
Dalam proses tersebut, beberapa bagian tubuh perlu diperhatikan secara khusus, seperti area tulang yang menonjol, bekas luka, dan area yang sensitif.
Casting dapat dilakukan menggunakan teknik wrap maupun slab, sesuai dengan kebutuhan dalam proses pembuatan cetakan.
4. Fabrikasi Prostesis
Setelah proses casting selesai, tahap berikutnya adalah fabrikasi.
Cetakan negatif digunakan untuk menghasilkan positive cast yang menyerupai bentuk stump pasien. Selanjutnya, dilakukan proses rektifikasi, yaitu penyesuaian bentuk positive cast dengan cara menambahkan atau mengurangi bagian tertentu.
Tujuan proses tersebut adalah menghasilkan socket yang dapat menyesuaikan bentuk stump dengan baik.
Setelah itu, proses fabrikasi dilanjutkan dengan pembuatan soft socket dan hard socket. Hard socket dapat dibuat menggunakan material seperti glass reinforced plastic dan resin polyester.
5. Bench Alignment
Setelah socket selesai dibuat, komponen-komponen prostesis seperti socket dan kaki prostetik disatukan melalui proses bench alignment.
Tahap ini bertujuan mendapatkan susunan komponen prostesis yang sesuai sebelum digunakan langsung oleh pasien.
Dengan demikian, posisi setiap komponen dapat diperiksa terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap pengepasan pada pasien.
6. Fitting
Tahap selanjutnya adalah fitting, yaitu proses pengepasan prostesis secara langsung kepada pasien.
Fitting dilakukan melalui dua tahap:
- Fitting statis, untuk memastikan prostesis terpasang dengan baik ketika pasien berdiri.
- Fitting dinamis, untuk melihat fungsi prostesis ketika pasien bergerak dan berjalan.
Pada tahap ini, kenyamanan pasien, kestabilan, kemampuan menumpu, serta kemungkinan munculnya masalah saat menggunakan prostesis diperhatikan.
Jika ditemukan masalah, posisi atau komponen prostesis dapat disesuaikan kembali agar lebih sesuai dengan kondisi pasien.
Edukasi Penggunaan dan Perawatan Prostesis
Setelah prostesis selesai dipasang, pasien mendapatkan edukasi mengenai cara menggunakan dan merawat alat dengan benar.
Cara Donning dan Doffing
Pasien dan keluarga diberikan informasi mengenai cara donning atau memasang prostesis dan doffing atau melepas prostesis dengan benar.
Dengan cara tersebut, pasien dapat menggunakan prostesis secara lebih aman dan mandiri.
Durasi Penggunaan
Lama penggunaan prostesis disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pasien.
Pada tahap awal, penggunaan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi pasien. Seiring dengan meningkatnya kemampuan beradaptasi, durasi penggunaan dapat disesuaikan kembali.
Perawatan Prostesis
Prostesis perlu dijaga agar tetap bersih dan kering. Jika terdapat kotoran, permukaan alat dapat dibersihkan menggunakan kain yang sedikit lembap.
Perawatan secara rutin penting dilakukan agar prostesis tetap dalam kondisi baik.
Perawatan Stump
Pasien juga perlu memeriksa kondisi stump secara rutin, terutama setelah menggunakan prostesis.
Hal ini penting untuk mengetahui apakah terdapat iritasi, kemerahan, luka, atau masalah lain yang perlu diperhatikan.
Pola Hidup Sehat
Pasien diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat.
Selain itu, makanan bergizi seimbang, keteraturan waktu makan, serta aktivitas fisik sesuai kemampuan dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.
Hasil Pendampingan Pasien
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemberian transfemoral prosthesis memberikan manfaat bagi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Pasien dilaporkan dapat berjalan dengan lebih baik dan melakukan aktivitas secara lebih mandiri. Selain itu, selama proses pemantauan, pasien merasa nyaman ketika menggunakan prostesis dan menunjukkan peningkatan kepercayaan diri.
Meskipun demikian, gait deviation atau penyimpangan pola berjalan masih menjadi salah satu hal yang perlu dipantau.
Oleh karena itu, pemantauan lanjutan tetap diperlukan agar penggunaan prostesis dapat terus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pasien.
Pentingnya Pendampingan Setelah Pemberian Prostesis
Pemberian kaki palsu sebaiknya tidak berhenti setelah alat diserahkan kepada pasien. Sebaliknya, pendampingan memiliki peran penting karena pasien membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan prostesis.
Melalui pendampingan, tenaga kesehatan dapat membantu pasien memahami cara menggunakan alat, mengatasi kendala yang muncul, serta meningkatkan kemampuan berjalan secara bertahap.
Selain itu, dukungan keluarga juga diperlukan agar pasien memiliki motivasi untuk terus berlatih dan meningkatkan kemandiriannya.
Dengan adanya pendampingan yang berkelanjutan, pasien dapat memperoleh bantuan ketika mengalami kesulitan dalam menggunakan prostesis.
Manfaat Transfemoral Prosthesis bagi Pasien
Berdasarkan kegiatan tersebut, penggunaan transfemoral prosthesis dapat memberikan beberapa manfaat bagi pasien pasca amputasi.
Manfaat tersebut antara lain:
- Membantu mendukung kemampuan berjalan.
- Membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari.
- Mendorong kemandirian pasien.
- Membantu pasien beradaptasi dengan kondisi setelah amputasi.
- Meningkatkan kepercayaan diri.
- Memberikan kesempatan kepada pasien untuk kembali melakukan berbagai aktivitas.
Namun, manfaat prostesis sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Karena itu, proses pemeriksaan, pembuatan, pengepasan, latihan, dan pendampingan tetap diperlukan.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
