Atlet Amputasi yang Menaklukkan 104 Marathon Berturut-turut

Jacky Hunt-Broesma membuktikan bahwa kehilangan kaki bukan berarti harus berhenti mengejar tantangan. Pelari asal Afrika Selatan tersebut berhasil menyelesaikan maraton penuh selama 104 hari berturut-turut setelah kehilangan kaki kirinya akibat kanker.

Setiap hari, Jacky menempuh jarak 42,195 kilometer dengan waktu rata-rata sekitar lima jam. Pencapaian tersebut menjadi salah satu tantangan lari paling luar biasa yang pernah dilakukan oleh seorang penyandang amputasi.

Perjalanan Jacky menjadi semakin menarik karena ia baru mulai serius menekuni olahraga lari beberapa tahun setelah menjalani amputasi. Dari seseorang yang pernah berusaha menyembunyikan kaki prostetiknya, ia kemudian berkembang menjadi pelari maraton yang berani menantang batas kemampuannya.

Jacky Hunt-Broesma Kehilangan Kaki Akibat Kanker

Pada 2002, Jacky Hunt-Broesma didiagnosis menderita Ewing sarcoma, yaitu jenis kanker langka yang dapat berkembang pada tulang atau jaringan lunak.

Saat itu, Jacky masih berusia 26 tahun. Kondisinya berkembang dengan cepat sehingga ia harus menjalani amputasi kaki kiri hanya dua minggu setelah mendapatkan diagnosis.

Perubahan tersebut membuat Jacky membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Pada tahun-tahun awal setelah amputasi, ia merasa kesulitan menerima kondisi barunya.

Bahkan, Jacky sering mengenakan celana panjang ketika bepergian agar kaki prostetiknya tidak terlihat oleh orang lain.

Mulai Berlari pada 2016

Perubahan besar dalam kehidupan Jacky terjadi pada 2016 ketika ia mulai mencoba olahraga lari.

Sebelumnya, Jacky tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pelari jarak jauh. Ia bahkan menganggap maraton sebagai olahraga yang terlalu ekstrem.

Namun, semuanya berubah setelah Jacky mendapatkan kaki prostetik khusus untuk berlari. Ia kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba lari 10 kilometer pertamanya.

Sejak saat itu, Jacky mulai meningkatkan jarak larinya. Ia mencoba half marathon hingga berbagai perlombaan maraton dengan medan yang berbeda.

Baginya, setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan tubuhnya dapat berkembang.

Menargetkan Rekor Maraton Berturut-turut

Pada awal 2022, Jacky menetapkan tantangan yang jauh lebih besar. Ia ingin menjadi perempuan yang mampu menyelesaikan maraton selama beberapa hari berturut-turut dalam waktu paling lama.

Saat itu, rekor perempuan yang menjadi acuannya adalah 95 hari berturut-turut. Rekor tersebut sebelumnya dicatat oleh Alissa Amos Clark dari Amerika Serikat.

Jacky kemudian menetapkan target untuk melampaui pencapaian tersebut. Ia mulai menjalankan tantangannya pada pertengahan Januari.

Menyelesaikan 104 Marathon dalam 104 Hari

Jacky berhasil mencapai targetnya pada 30 April setelah menyelesaikan maraton selama 104 hari berturut-turut.

Setiap hari, ia menempuh jarak 42,195 kilometer. Jika dihitung secara keseluruhan, Jacky telah berlari sejauh sekitar 2.734 mil atau 4.400 kilometer.

Tidak semua maraton dilakukan dalam perlombaan resmi. Karena perlombaan maraton tidak tersedia setiap hari, Jacky menyelesaikan sebagian tantangannya di jalan sekitar tempat tinggal, jalur pejalan kaki, hingga treadmill di rumah.

Ia juga pernah mengikuti beberapa maraton terkenal, termasuk Boston Marathon dan Lost Dutchman Marathon di Arizona.

Tantangan Fisik dengan Kaki Prostetik

Menjalani maraton setiap hari tentu membutuhkan persiapan fisik yang tidak sederhana. Jacky harus memberikan perhatian khusus pada kaki yang diamputasi dan prostesis yang digunakannya.

Setiap hari, ia menggunakan liner dan kaus kaki khusus sebelum memasang prostesis. Setelah berlari, Jacky melakukan peregangan dan menggunakan foam roller untuk membantu tubuhnya kembali rileks.

Ia juga menggunakan kompres es sebagai bagian dari pemulihan setelah berlari.

Menariknya, Jacky berhasil menyelesaikan tantangan tersebut tanpa mengalami cedera selama rangkaian 104 maraton.

Membantu Penyandang Amputasi Lewat Tantangannya

Selain mengejar pencapaian pribadi, Jacky juga menggunakan tantangannya untuk membantu penyandang amputasi lainnya.

Ia membagikan perjalanan maratonnya melalui media sosial. Dari kegiatan tersebut, Jacky berhasil mengumpulkan sekitar 88.000 dolar AS untuk organisasi nirlaba Amputee Blade Runners.

Organisasi tersebut membantu menyediakan kaki prostetik bagi penyandang amputasi yang ingin berlari.

Dengan demikian, tantangan Jacky tidak hanya berkaitan dengan olahraga. Ia juga berusaha membuka kesempatan bagi lebih banyak penyandang amputasi untuk kembali aktif.

Maraton Mengubah Cara Jacky Melihat Dirinya

Bagi Jacky, maraton bukan hanya tentang kemampuan fisik. Ia juga melihat olahraga tersebut sebagai tantangan mental.

Setelah menjalani berbagai perlombaan, Jacky merasa lebih memahami kemampuan tubuhnya. Ia juga mendapatkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang setelah menjalani amputasi.

Perjalanan tersebut membuatnya menyadari bahwa kondisi fisik bukan satu-satunya batas dalam menentukan apa yang dapat dilakukan seseorang.

Maraton justru menjadi salah satu cara Jacky mengenal dirinya kembali dan menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Perjalanan Jacky Hunt-Broesma Belum Berakhir

Setelah menyelesaikan 104 maraton berturut-turut, Jacky belum berniat berhenti berlari.

Ia memiliki target berikutnya, yaitu mengikuti Moab Marathon di Utah, Amerika Serikat. Dalam tantangan tersebut, ia berencana menempuh jarak sekitar 240 mil atau 386 kilometer.

Perjalanan Jacky Hunt-Broesma menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi bagian dari proses menemukan kembali kepercayaan diri setelah amputasi.

Dari seseorang yang pernah berusaha menyembunyikan kaki prostetiknya, Jacky kini justru menggunakannya untuk menempuh ribuan kilometer. Kisahnya juga menunjukkan bahwa prostesis dan olahraga dapat membuka kesempatan bagi penyandang amputasi untuk kembali aktif dan mengejar berbagai tujuan.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518