Terlahir dengan tangan kiri dan kaki kiri yang cacat, Rahma Alya Rizki malah ditinggal oleh bapak kandungnya sejak kecil. Walaupun masih tinggal sekampung, sang ayah pun jarang menyapa Rahma saat bertemu. Anak ketiga pasangan Asep Udung dan Nia Kurniasih itu kemudian tumbuh dengan perasaan rendah diri. Ditemui di rumah neneknya, Dedeh, Rahma terlihat malu-malu saat kedatangan tamu. Nada bicaranya sangat pelan dan kepalanya hampir selalu tertunduk. Ketika duduk, bagian tangan yang cacat berusaha dia sembunyikan di balik kaus lengan panjang di antara kedua pahanya.

Dia mengaku, beberapa teman sebayanya seringkali mengejek kondisi fisiknya. Karena sempat khawatir tidak ada teman yang mau menemaninya, dia pun baru mau menempuh pendidikan tingkat SD di SD Gapurawinaya saat berumur 8 tahun. Rahma tak memiliki telapak dan jari pada tangan kirinya, sedangkan telapak tangan kanannya tidak berjari lengkap. Pun demikian dengan kaki kirinya, yang juga tidak mempunyai telapak dan jari. Jika berdiri, panjang kedua kakinya tampak berbeda sekitar 15 centimeter. Oleh karena itu, dia tidak kuat berdiri lama saat upacara. Sewaktu SD, gurunya sempat tak mengizinkan Rahma ikut olahraga dan kegiatan pramuka.

Meskipun begitu, kondisi psikologis Rahma lambat laun mulai berubah sejak dia mendapatkan kaki palsu dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi melalui program Generasi Sehat dan Cerdas pada 2013. Walaupun masih terlihat malu-malu, secara tersirat dia berani menunjukkan tekad yang kuat untuk membuktikan diri, bahwa keterbatasan fisik bukanlah jadi penghalang untuknya. Memang bukan pelari paling cepat di sekolahnya, tapi dengan kaki palsu dia ingin menunjukkan kesetaraan dengan kawan-kawannya. Saat ditanyakan alasannya, Rahma mengaku tak ingin diistimewakan oleh gurunya, sehingga menimbulkan kecemburuan pada teman-temannya.

Di samping itu, sejak sekitar dua tahun lalu dia mulai belajar bela diri pencak silat di Padepokan Putra Sunda di dekat rumahnya. Kini Rahma semakin lihai bersilat, dengan atau tanpa kaki palsu, bahkan sering diundang tampil di acara hajatan. Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa KBB Rina Marlina yang pada 2013 menjadi penanggung jawab program GSC di Bandung Barat menuturkan, di antara sejumlah anak yang menerima bantuan program tersebut, Rahma merupakan anak yang paling signifikan mengalami kemajuan perkembangan. Di sekolahnya, Rahma pun tergolong anak yang pintar.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :

  1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
  2. Lolos Uji Kompetensi.
  3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
  4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518

ipoedkakipalsu.com

Open chat