Jelan penyandang disabilitas sukses berbisnis. Para penyandang disabilitas di Klaten hingga kini masih mengalami diskriminasi. Mulai dianggap sebagai aib hingga harus dikasihani yang membuat sebagian dari mereka tak bisa mandiri. Meski demikian, tak sedikit difabel yang kini bisa mandiri dan berkarya dengan keterbatasan mereka. Seperti Jelan, 48, penyandang disabilitas asal Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Klaten. Jelan menjadi salah satu penyandang tuna daksa setelah kakinya mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan pada 1997. Kondisi itu sempat membuat Jelan terpuruk dan merasa tak bisa berbuat apa-apa lagi lantaran mobilitasnya terhambat. Setahun berlalu, Jelan mulai bangkit. Dia mulai merintis usaha membuat sangkar burung yang dia pelajari secara autodidak pada 1998. Jelan beralih membuat kerajinan berbahan bambu yang bertahan hingga 15 tahun terakhir. “Yang membuat saya termotivasi itu karena saya harus menafkahi istri. Jadi saya ada kewajiban untuk bertanggung jawab,” kata Jelan.

Dia mampu membuat berbagai perabotan rumah seperti meja, kursi, serta berbagai barang dengan bahan dasar bambu. Keahliannya semakin terasah setelah mengakses pelatihan. Hasil karya bapak dua anak itu merambah ke berbagai daerah seperti Demak dan Kudus. Setidaknya dalam sebulan Jelan bisa membuat tiga set meja-kursi dengan harga per set sekitar Rp1,5 juta. Hasil produksi itu pula yang bisa menyokong kebutuhan hidup Jelan bersama istri dan kedua anaknya. Selain aktif memproduksi kerajinan dari bambu, Jelan pula yang menjadi salah satu inisiator pembentukan Komunitas Difabel Merapi. Komunitas yang kini beranggotakan puluhan difabel di wilayah Kemalang dan sekitarnya itu memiliki kegiatan rutin. Yakni, memotivasi para penyandang disabilitas yang masih merasa minder dan belum bersedia keluar rumah. “Untuk teman-teman difabel belum keluar memang harus dimotivasi karena mereka tidak sendiri, hidup harus tetap dilanjutkan,” kata Jelan.

Lain halnya dengan Shinta Isyuniar, 37, penyandang disabilitas asal Desa Gatak, Kecamatan Ngawen, Klaten. Dia mampu mandiri berkat usahanya budi daya jamur. “Saya bergerak usaha di jamur itu hampir tiga tahun. Sempat bingung saat pandemi ini. Akhirnya kami mencoba bikin olahan tongseng jamur dan
rendang jamur. Alhamdulillah tetap bisa berjalan dan pesanannya banyak,” kata Sinta.

Sekretaris Persatuan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK). Setyo Widodo, mengatakan Sinta dan Jelan merupakan sebagian kecil penyandang disabilitas yang mampu mandiri dengan keahlian mereka masing-masing. Di Klaten, masih banyak lagi penyandang disabilitas yang bisa mandiri. Seperti ada penyandang disabilitas asal Kecamatan Gantiwarno yang bisa memodifkasi sepeda motor roda tiga dan kini banyak digunakan difabel Klaten. Soal pendampingan kepada difabel Klaten, Setyo mengatakan selama ini PPDK kerap mendapatkan dana hibah dari pemerintah. Dana ini digunakan untuk menggelar berbagai pelatihan untuk kaum difabel sesuai kondisi disabilitas dan kebutuhan masing-masing setiap tahunnya. “Setiap mendapatkan hibah itu, kami salurkan tidak dalam bentuk dana. Tetapi dalam bentuk program untuk pemberdayaan difabel,” jelas Setyo.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).

Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :

1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.

2. Lolos Uji Kompetensi.

3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.

4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.

SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518

ipoedkakipalsu.com

Open chat