Dari Mekanik ke Bionik: Masa Depan Kaki Buatan yang Bisa Terhubung dengan Sistem Saraf

Teknologi prostetik terus berkembang dengan sangat pesat. Jika sebelumnya kaki palsu lebih banyak berfungsi sebagai alat bantu mekanis, kini para peneliti mengembangkan kaki bionik yang dapat berinteraksi dengan sistem saraf manusia.

Teknologi ini membuka peluang bagi pengguna prostesis untuk mengendalikan kaki buatan dengan lebih alami.

Inovasi Neuroprostetik dari MIT

Salah satu pengembangan teknologi tersebut dilakukan oleh Dr. Hugh Herr dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ia sendiri kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan pendakian pada 1982.

Melalui pengembangan neuroprosthetic interface, tim peneliti berusaha menciptakan sistem yang memungkinkan pengguna mengendalikan kaki robotik melalui sinyal saraf.

Menurut Dr. Herr, otak manusia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Karena itu, otak dapat mempelajari cara mengendalikan prostesis yang kompleks meskipun hanya menerima informasi tertentu dari perangkat tersebut.

Bagaimana Cara Kerja Kaki Bionik?

Teknologi kaki bionik menggunakan sistem yang menghubungkan sinyal tubuh dengan perangkat prostetik.

1. Sinyal Saraf Diubah Menjadi Gerakan

Ketika pengguna ingin melangkah, sensor atau elektroda menangkap sinyal dari otot yang tersisa. Sistem kemudian menerjemahkan sinyal tersebut menjadi perintah untuk menggerakkan kaki robotik.

Dengan cara ini, gerakan kaki bionik dapat mengikuti keinginan pengguna secara lebih responsif.

2. Pengguna Dapat Merasakan Gerakan

Teknologi ini tidak hanya berfokus pada gerakan. Sistem neuroprostetik juga dikembangkan agar pengguna dapat menerima sensasi dari kaki buatan.

Sensasi tersebut membantu pengguna mengetahui posisi kaki saat berjalan. Dengan begitu, mereka dapat memiliki kesadaran yang lebih baik terhadap posisi anggota tubuhnya.

Kaki Bionik Membantu Pengguna Berjalan Lebih Alami

Penelitian mengenai teknologi neuroprostetik menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine, pengguna teknologi tersebut dapat berjalan 41 persen lebih cepat dibandingkan pengguna prostesis standar.

Selain itu, kecepatan berjalan mereka dapat mendekati orang tanpa amputasi.

Pengguna juga dilaporkan mampu bergerak dengan lebih otomatis. Mereka tidak perlu terus-menerus berkonsentrasi pada setiap langkah yang dilakukan.

Teknologi ini juga berpotensi membantu mengurangi rasa sakit pada area amputasi.

Hugh Herr Berencana Menggunakan Teknologi Ini

Dr. Hugh Herr tidak hanya mengembangkan teknologi tersebut untuk orang lain. Ia juga berencana menggunakan kaki bionik hasil pengembangan ini untuk dirinya sendiri.

Menurutnya, prosedur tersebut berpotensi digunakan sebagai teknik revisi bagi orang yang sudah lama kehilangan anggota tubuh.

Jika pengembangan terus berlanjut, teknologi neuroprostetik dapat membawa perubahan besar dalam dunia prostetik. Kaki buatan di masa depan bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu berjalan, tetapi juga dapat berkomunikasi dengan sistem saraf penggunanya.

Dengan perkembangan tersebut, kaki bionik menjadi salah satu teknologi yang menjanjikan untuk membantu pengguna prostesis mendapatkan mobilitas yang lebih alami.