Kaki palsu bionic menjadi inovasi yang dikembangkan oleh Carolene Adeline, siswi Jakarta Intercultural School (JIS), sebagai bentuk kepedulian terhadap penyandang disabilitas yang kurang mampu. Berawal dari kegiatan sosial saat pandemi COVID-19, ia tergerak membantu penyandang amputasi memperoleh prostetik yang lebih layak dan terjangkau.
Melalui kegiatan sukarela dan riset, Carolene membuktikan bahwa generasi muda dapat menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Berawal dari Aksi Sosial di Masa Pandemi
Saat pandemi COVID-19, Carolene bersama temannya, Rionaldo, menyalurkan bantuan sembako kepada penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan ekonomi.
Salah satu penerima bantuan adalah Nedi, penyandang polio yang mengajarkan keterampilan memperbaiki gawai kepada penyandang disabilitas lainnya agar mereka memiliki penghasilan dan dapat hidup lebih mandiri.
Pengalaman tersebut mendorong Carolene untuk bergabung sebagai relawan di Yayasan Peduli Tuna Daksa.
Terlibat Langsung dalam Pembuatan Prostetik
Di yayasan tersebut, Carolene tidak hanya menggalang donasi. Ia juga ikut terlibat dalam proses pembuatan kaki prostetik.
Beberapa kegiatan yang dilakukan meliputi:
- Mengukur tungkai pasien.
- Membantu proses pembuatan prostetik.
- Mendampingi proses pemasangan.
- Mengikuti uji coba penggunaan kaki palsu.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai pentingnya akses prostetik bagi penyandang amputasi agar dapat kembali bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Mengembangkan Kaki Palsu Bionic yang Lebih Fleksibel
Setelah membantu banyak penyandang disabilitas, Carolene memiliki gagasan untuk mengembangkan kaki palsu bionic yang lebih fleksibel.
Tujuannya adalah menciptakan prostetik yang memungkinkan pengguna melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman, termasuk beribadah. Salah satu fokus pengembangannya ialah membuat lutut prostetik yang dapat ditekuk sehingga memudahkan pengguna saat melaksanakan salat.
Selain meningkatkan kenyamanan, inovasi tersebut diharapkan mampu memperluas fungsi prostetik bagi berbagai kebutuhan pengguna.
Menghadirkan Prostetik yang Lebih Terjangkau
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan kaki palsu bionic adalah biaya produksi yang masih tinggi. Harga prostetik bionic dapat mencapai sekitar Rp25 juta, sehingga belum terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Carolene berupaya mencari desain dan komponen yang lebih efisien tanpa mengurangi kualitas maupun fungsi prostetik.
Dalam proses pengembangannya, ia bekerja sama dengan tim engineering PT Omron Manufacturing of Indonesia untuk merancang kaki palsu bionic dengan biaya yang lebih terjangkau.
Membuka Harapan bagi Penyandang Disabilitas
Inovasi yang dilakukan Carolene menunjukkan bahwa kolaborasi antara generasi muda, dunia pendidikan, dan industri dapat menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan pengembangan kaki palsu bionic yang lebih fleksibel dan ekonomis, semakin banyak penyandang disabilitas diharapkan dapat memperoleh alat bantu yang meningkatkan mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup mereka.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
