Kuswati tuna daksa yang bekerja menenun dengan kaki. Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mensyukuri nikmat hidup dan berkarya. Hal itu ditunjukkan Kuswati (24), buruh difabel asal Purbalingga, Jawa Tengah. Wanita muda itu mampu melewati batas kemampuannya untuk bekerja meski tak memiliki tangan. Di sudut Desa Panusupan, Kecamatan Rembang.

Kuswati lahir dan dan dibesarkan dengan dukungan cinta dari keluarganya. Tak seperti orang lain pada umumnya, dia harus menerima kenyataan terlahir tanpa memiliki kedua tangan. Masa-masa berat telah banyak dilaluinya. Namun seiring berjalan waktu, Kuswati akhirnya memilih menjalani hidup dengan penuh syukur tanpa berkeluh kesah. Dia belajar menerima dan berpengharapan, memiliki cacat fisik bukan beban, namun anugerah yang tetap harus disyukuri dalam menjalani kehidupan ini.

Tanpa kedua tangan, Kuswati belajar untuk memanfaatkan anggota tubuhnya yang lain untuk beraktivitas. Sedari kecil, dia sudah mengasah kemampuan kakinya. Bukan hanya untuk berpijak, namun kaki itu sekaligus menjadi tangannya dalam menjalani rutinitas hidup. Dia menggunakan jemari kecil di kedua kakinya untuk menyapu rumah, mencuci piring, bahkan bekerja dan menghasilkan uang.

Ketrampilannya itu bakat istimewa yang hanya dimiliki olehnya seorang. Meski cacat, bukan alasan baginya untuk bermalas-malasan. Kuswati yang hanya berpendidikan hingga kelas tiga sekolah dasar (SD) itu menjadi buruh plasma pembuat mata palsu di desanya. Dengan tekun, dia merajut bulu-bulu mata palsu. Jemari kakinya lincah memasukan setiap helai rambu dalam lubang jarung untuk kemudian memintalnya menjadi bulu mata.

Hasil tak pernah menghianati proses. Dengan pekerjaan itu, dia bisa menerima pendapatan yang cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan pribadinya. “Saya hanya mendapat upah Rp4.000 setiap harinya dari hasil memintal rambut menjadi bulu mata palsu. Namun saya bersyukur, itu lebih dari cukup untuk membeli kebutuhan,” ucap putri pasangan Sukimin dan Ruswati tersebut. Kendati terlahir cacat, tidak membuatnya rendah diri apalagi malu terhadap tetangga. Dia optimistis memandang hari esok akan lebih baik dan masih terus berjuang mengejar cita–citanya menjadi seorang biduan. Kuswati hanya satu dari sekian banyak penyandang cacat yang mampu melewati keterbatasan fisiknya. Berbekal semangat dan pantang mengeluh, dia mampu mengubah pandangan orang sekelilingnya tentang kondisi penyandang cacat.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).

Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :

1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.

2. Lolos Uji Kompetensi.

3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.

4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.

SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518

ipoedkakipalsu.com

Open chat