Pendampingan dan Evaluasi Kaki Prostetik untuk Penyandang Disabilitas Kongenital

Kaki prostetik merupakan alat bantu yang dapat meningkatkan mobilitas dan kemandirian penyandang disabilitas. Namun, penggunaan kaki prostetik membutuhkan proses adaptasi, terutama bagi pengguna yang mengalami kelainan sejak lahir dan belum pernah memiliki pengalaman berjalan dengan kaki normal.

Hal tersebut dibahas dalam penelitian Menik Dwi Kurniatie, Dita Ayu Mayasari, Dedi Nurcipto, Aripin, dan Wisnu Adi Prasetyanto yang diterbitkan dalam JATTEC: Journal of Appropriate Technology for Community Services Vol. 5 No. 1 Tahun 2024. Penelitian tersebut membahas pendampingan dan evaluasi penggunaan above knee prosthesis pada penyandang disabilitas dengan kelainan kongenital atau kondisi bawaan sejak lahir.

Penggunaan Kaki Prostetik pada Kelainan Kongenital

Kaki prostetik digunakan untuk menggantikan bagian kaki yang hilang akibat amputasi maupun kelainan sejak lahir. Selain membantu berjalan, alat ini juga dapat mendukung pengguna dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Namun, pengguna dengan kelainan kongenital memiliki tantangan yang berbeda. Mereka yang belum pernah berjalan dengan kaki normal perlu mempelajari kemampuan dasar secara bertahap.

Proses tersebut dimulai dari belajar berdiri, menjaga keseimbangan, memindahkan berat badan, hingga melakukan langkah secara mandiri.

Pada penelitian ini, pengguna mengalami kelainan kongenital sehingga tidak memiliki kaki pada bagian atas lutut. Oleh karena itu, prostesis yang digunakan adalah above knee prosthesis.

Tujuan Pendampingan Kaki Prostetik

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan kaki prostetik kepada pengguna. Tim juga memberikan pendampingan dan melakukan evaluasi selama proses adaptasi.

Secara khusus, kegiatan bertujuan untuk:

  • mengidentifikasi kebutuhan pengguna;
  • menyediakan kaki prostetik yang sesuai;
  • mengevaluasi kenyamanan dan fungsi prostesis;
  • membantu pengguna belajar berdiri dan berjalan;
  • menemukan kendala selama penggunaan prostesis; dan
  • meningkatkan kemandirian pengguna.

Dengan demikian, keberhasilan penggunaan prostesis tidak hanya ditentukan oleh produk yang dibuat. Kemampuan pengguna dalam beradaptasi juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Proses Pembuatan Kaki Prostetik

Pembuatan kaki prostetik dilakukan melalui beberapa tahapan. Setiap tahap diperlukan agar ukuran dan desain prostesis dapat disesuaikan dengan kondisi pengguna.

1. Persiapan dan Identifikasi

Tahap awal dilakukan melalui survei bersama YPAC Kota Semarang. Tim mengidentifikasi penyandang disabilitas yang membutuhkan alat bantu gerak.

Data yang dikumpulkan meliputi kondisi pengguna, penyebab disabilitas, kebutuhan alat bantu, serta kendala yang dialami ketika menggunakan prostesis sebelumnya.

Berdasarkan hasil identifikasi, ditemukan pengguna dengan kelainan kongenital yang tidak memiliki kaki dan membutuhkan above knee prosthesis.

2. Pengukuran

Selanjutnya, dilakukan pengukuran bentuk dan ukuran kaki menggunakan gips. Hasil pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar dalam pembuatan prostesis.

Namun, proses pengukuran memiliki tantangan. Pengguna lebih banyak berada dalam posisi duduk sehingga bentuk dan volume bagian tubuh dapat berbeda ketika dibandingkan dengan posisi berdiri.

Karena itu, hasil pengukuran perlu diperhatikan dengan baik agar prostesis dapat dibuat sesuai dengan kondisi pengguna.

3. Produksi

Kaki prostetik terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:

  • Socket, sebagai bagian yang menghubungkan tubuh dengan prostesis.
  • Shank, sebagai bagian penyangga yang membantu menahan beban.
  • Telapak kaki, yang membantu mendistribusikan beban dan menjaga keseimbangan.

Proses produksi dilakukan oleh bengkel ortotik prostetik Somya Ortha Prosthetic. Proses tersebut mencakup perekaman ukuran hingga pembuatan produk.

Tahapan Pemasangan Kaki Prostetik

Setelah prostesis selesai dibuat, dilakukan pemasangan dan penyesuaian pada tubuh pengguna. Tahapan tersebut meliputi:

  1. memasang soft socket pada bagian kaki pengguna;
  2. memasang hard socket yang dibuat dari fiber dan resin;
  3. memasang dekker untuk membantu menjaga posisi socket;
  4. melakukan static fitting untuk memeriksa keseimbangan saat berdiri;
  5. melakukan dynamic fitting untuk mengevaluasi pola berjalan; dan
  6. melakukan fitting ulang apabila ditemukan masalah.

Tahapan fitting sangat penting karena ukuran prostesis yang sesuai belum tentu langsung menghasilkan pola berjalan yang baik. Oleh karena itu, penyesuaian tetap diperlukan setelah pengguna mencoba berjalan.

Kendala Penggunaan Kaki Prostetik

Sebelum mendapatkan pendampingan, pengguna mengalami beberapa kendala dalam menggunakan prostesis.

Beberapa masalah yang ditemukan antara lain:

  • prostesis belum dapat digunakan secara mandiri;
  • proses pemasangan masih cukup rumit;
  • desain belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi pengguna sejak lahir; dan
  • pengguna masih membutuhkan pendampingan saat beradaptasi.

Selain itu, pengguna belum memiliki pengalaman berjalan sebelumnya. Akibatnya, proses belajar menggunakan prostesis membutuhkan waktu dan latihan yang lebih panjang.

Hasil Pendampingan Selama Enam Bulan

Pendampingan dilakukan secara bertahap selama kurang lebih enam bulan melalui beberapa kali pertemuan. Prosesnya dimulai dari pengukuran, fitting, latihan berdiri, hingga latihan berjalan.

Pada tahap dynamic fitting, ditemukan beberapa penyimpangan pola berjalan. Pengguna mengalami gerakan adduksi dan pronasi, yang menunjukkan bahwa kontrol arah langkah masih perlu ditingkatkan.

Pengguna juga mengalami circumduction, yaitu gerakan kaki membentuk lintasan melingkar ketika melangkah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengguna masih membutuhkan latihan untuk beradaptasi dengan prostesis.

Oleh sebab itu, tim memberikan rekomendasi penggunaan sepatu koreksi AFO dan walker. Kedua alat tersebut digunakan untuk membantu pengguna menjaga keseimbangan dan belajar berjalan secara bertahap.

Peran Walker dalam Latihan Berjalan

Walker menjadi salah satu alat pendukung dalam proses adaptasi. Pada awal pendampingan, pengguna belum mampu berdiri dalam waktu lama dan belum dapat berjalan tanpa bantuan.

Dengan menggunakan walker, pengguna dapat berlatih menjaga keseimbangan dengan lebih aman. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa pengguna mampu berdiri lebih lama ketika menggunakan prostesis dibandingkan ketika tidak menggunakan alas kaki.

Meskipun demikian, pengguna masih membutuhkan latihan lebih lanjut agar dapat berjalan secara mandiri.

Pengembangan Desain Kaki Prostetik

Penelitian ini menunjukkan bahwa desain kaki prostetik perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pengguna. Desain yang sesuai untuk pengguna amputasi belum tentu cocok bagi seseorang yang mengalami kelainan sejak lahir.

Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah membuat hard socket yang lebih pendek. Desain tersebut bertujuan meningkatkan kenyamanan dan memungkinkan bagian socket berfungsi sekaligus sebagai bagian yang menyerupai alas kaki.

Selain itu, telapak kaki prostetik dapat dibuat menggunakan pendekatan reverse engineering. Jika pengguna masih memiliki kaki normal pada sisi lainnya, bentuk kaki tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk membuat telapak prostetik yang lebih menyerupai kaki asli.

Pendekatan tersebut tidak hanya mempertimbangkan fungsi. Bentuk prostesis yang lebih menyerupai anggota tubuh asli juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri pengguna.

Pentingnya Pendampingan Setelah Pembuatan Prostesis

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembuatan kaki prostetik saja belum cukup. Pengguna dengan kelainan sejak lahir membutuhkan pendampingan khusus karena belum memiliki pengalaman berjalan sebelumnya.

Oleh karena itu, proses rehabilitasi perlu dilakukan secara bertahap. Pengguna perlu belajar berdiri, menjaga keseimbangan, memulai langkah, dan membentuk pola berjalan yang lebih baik.

Selain itu, evaluasi secara berkala diperlukan untuk mengetahui apakah ukuran, posisi, dan alignment prostesis masih sesuai dengan kondisi pengguna.

Dengan pendampingan yang tepat, pengguna memiliki kesempatan lebih besar untuk beradaptasi dan meningkatkan kemampuan menggunakan prostesis dalam aktivitas sehari-hari.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518