Penyandang Disabilitas di Yerusalem Mengukir Kisah Sukses

Pendidikan inklusif anak autisme menjadi pilihan bagi Hanaa Hawwash untuk mendukung perkembangan putranya, Izzuddin. Perempuan asal Yerusalem tersebut awalnya tidak mengetahui bahwa anaknya mengalami autisme.

Saat Izzuddin masih kecil, Hanaa belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai perkembangan anak. Karena itu, ia belum menyadari adanya kesulitan dalam kemampuan berbicara dan interaksi sosial putranya.

Seiring waktu, keluarga mulai melihat beberapa tanda. Izzuddin tidak merespons ketika dipanggil dan sering berteriak. Kondisi tersebut kemudian mendorong keluarga untuk melakukan pemeriksaan.

Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, Izzuddin mendapat diagnosis autisme ketika berusia sekitar dua setengah tahun. Setelah itu, ia mengikuti sejumlah terapi di beberapa pusat kesehatan.

Pendidikan Anak Autisme

Izzuddin kemudian masuk taman kanak-kanak khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Namun, Hanaa kemudian mengetahui adanya sekolah inklusif di Lembaga Putri Basma atau Princess Basma Centre di Yerusalem Timur.

Setelah mengetahui program tersebut, Hanaa mendaftarkan Izzuddin ke sekolah tersebut. Pada tahun pertama, Izzuddin belajar di kelas khusus untuk anak dengan autisme.

Selanjutnya, pihak lembaga memutuskan untuk mengintegrasikan Izzuddin dengan siswa lain. Ia kemudian mengikuti kelas satu sekolah dasar reguler pada awal tahun ajaran.

Perkembangan Izzuddin di Sekolah Inklusif

Menurut Hanaa, perkembangan sosial Izzuddin terlihat semakin cepat setelah belajar bersama siswa lain. Ia dapat berinteraksi setiap hari dengan anak-anak yang tidak mengalami kondisi serupa.

Selain itu, lingkungan sekolah memberikan kesempatan kepada Izzuddin untuk belajar melalui interaksi langsung. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses perkembangannya.

Meski demikian, Izzuddin masih membutuhkan terapi dan pendampingan. Ia juga perlu terus berlatih agar dapat mengekspresikan dirinya dengan lebih baik.

Kisah Izzuddin menunjukkan bagaimana pendidikan inklusif anak autisme dapat menjadi bagian dari proses perkembangan sosial. Dukungan sekolah, keluarga, terapi, dan lingkungan menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518