Amputasi transfemoral adalah kondisi ketika tungkai bawah diamputasi pada bagian paha hingga melalui tulang femur. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan berjalan, keseimbangan, dan kebutuhan energi saat melakukan aktivitas.
Salah satu solusi yang dapat membantu pengguna beraktivitas adalah transfemoral prosthesis, yaitu kaki prostetik untuk pengguna dengan amputasi di atas lutut. Dalam prostesis ini, polycentric knee joint menjadi salah satu komponen penting karena membantu memberikan stabilitas dan mengatur gerakan lutut saat berjalan.
Apa Itu Transfemoral Prosthesis?
Transfemoral prosthesis merupakan alat pengganti tungkai yang digunakan oleh pengguna dengan amputasi di atas lutut. Karena sendi lutut alami ikut hilang, pengguna biasanya menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan pola berjalan yang stabil.
Selain itu, kehilangan sebagian otot yang mengontrol gerakan lutut dapat menyebabkan perubahan pola berjalan dan meningkatkan energi yang dibutuhkan saat berjalan.
Oleh karena itu, pemilihan komponen prostesis harus disesuaikan dengan kondisi setiap pengguna. Faktor yang perlu diperhatikan meliputi usia, berat badan, tingkat aktivitas, kondisi fisik, serta panjang stump atau bagian tungkai yang tersisa.
Peran Polycentric Knee Joint
Polycentric knee joint merupakan salah satu jenis sendi lutut prostetik yang menggunakan beberapa titik hubungan mekanis. Berbeda dengan single axis knee joint yang memiliki satu pusat putaran, polycentric knee memiliki pusat rotasi yang dapat berubah sesuai dengan gerakan lutut.
Perubahan pusat rotasi atau instantaneous center of rotation (ICR) membantu meningkatkan stabilitas ketika pengguna berdiri. Selain itu, mekanisme tersebut dapat membantu mengontrol gerakan kaki ketika memasuki fase ayunan.
Polycentric knee joint dapat menggunakan mekanisme 4-bar atau 6-bar linkage. Material yang digunakan dapat berupa baja, duraluminium, titanium, atau carbon. Material yang lebih ringan biasanya memiliki biaya produksi yang lebih tinggi.
Tahapan Pembuatan Transfemoral Prosthesis
Proses pembuatan transfemoral prosthesis terdiri dari enam tahap utama, yaitu assessment, measurement, casting, fabrication, fitting, dan finishing.
1. Assessment
Assessment merupakan tahap awal untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan pengguna. Pada tahap ini dilakukan wawancara serta pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan dapat mencakup Manual Muscle Testing (MMT) untuk mengetahui kekuatan otot dan Range of Motion (ROM) untuk mengetahui luas gerak sendi.
Hasil pemeriksaan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam menentukan desain dan komponen prostesis yang sesuai.
2. Measurement
Selanjutnya, dilakukan pengukuran pada stump dan tungkai normal sebagai pembanding.
Pengukuran stump meliputi panjang stump, lingkar stump pada beberapa titik, jarak antarinterval, serta diameter anteroposterior dan mediolateral.
Sementara itu, pengukuran tungkai normal meliputi panjang tungkai, panjang tungkai bawah, lingkar tungkai, panjang kaki, dan tinggi heel sepatu yang biasa digunakan.
Pengukuran yang tepat penting dilakukan agar ukuran prostesis dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh pengguna.
3. Casting
Casting adalah proses pembuatan negative cast atau cetakan negatif dari stump.
Sebelum proses dimulai, pengguna diberikan penjelasan mengenai prosedur yang akan dilakukan. Setelah itu, stump dipersiapkan menggunakan stockinet dan dibalut dengan Plaster of Paris (P.O.P.) bandage.
Cetakan dibuat dengan memperhatikan posisi anatomi penting, seperti ischial tuberosity dan adductor tendon. Tujuannya adalah menghasilkan bentuk socket yang sesuai dengan kondisi stump.
Setelah P.O.P. mengeras, negative cast dilepaskan dan diperiksa kembali untuk memastikan bentuk dan ukurannya sesuai.
4. Fabrication
Fabrication merupakan tahap pembuatan socket dan penyusunan komponen prostesis. Tahapan ini meliputi:
- Rektifikasi negative cast.
- Filling negative cast.
- Pembuatan dan rektifikasi positive cast.
- Laminasi socket.
- Assembling komponen.
- Bench alignment.
Pada proses laminasi, hard socket dapat dibuat menggunakan resin, fiberglass, stockinet, dan material pendukung lainnya.
Kemudian, seluruh komponen prostesis dirangkai menjadi satu kesatuan. Komponen tersebut meliputi socket, socket adaptor, polycentric knee joint, tube, tube adaptor, tube clamp, foot adaptor, dan foot.
5. Fitting
Fitting merupakan proses pengepasan prostesis pada tubuh pengguna. Tahap ini terdiri dari static alignment dan dynamic alignment.
Static alignment dilakukan ketika pengguna dalam posisi diam. Pemeriksaan bertujuan memastikan socket, posisi komponen, dan panjang prostesis sudah sesuai.
Selanjutnya, dynamic alignment dilakukan ketika pengguna berjalan. Pada tahap ini, pola berjalan diamati untuk mengetahui adanya gait deviation atau penyimpangan pola jalan.
Jika ditemukan masalah, alignment dapat disesuaikan kembali agar prostesis menjadi lebih stabil dan nyaman.
6. Finishing
Finishing merupakan tahap akhir sebelum prostesis digunakan oleh pengguna.
Tahap ini bertujuan memperbaiki tampilan prostesis sekaligus memastikan seluruh komponen aman dan nyaman digunakan.
Selain itu, pengguna diberikan edukasi mengenai cara menggunakan dan merawat prostesis serta cara menjaga kondisi stump.
Hasil Penggunaan Polycentric Knee Joint
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah satu pengguna transfemoral prosthesis yang sebelumnya menggunakan single axis knee joint dengan manual lock.
Pengguna mengalami amputasi transfemoral pada tungkai kiri dan memiliki kontraktur hip fleksi sebesar 15°. Sebelumnya, pengguna merasa kurang nyaman ketika menggunakan prostesis dengan single axis manual lock.
Prostesis sebelumnya juga memiliki tinggi sekitar 1,5 cm lebih tinggi dibandingkan tungkai normal. Kondisi tersebut menyebabkan penyimpangan pola berjalan berupa circumduction.
Selain itu, pengguna merasa kurang stabil ketika menggunakan single axis knee joint. Karena merasa kurang aman, lutut sering dikunci sehingga gerakan menjadi lebih terbatas.
Setelah menggunakan transfemoral prosthesis dengan polycentric knee joint, pengguna merasakan peningkatan stabilitas dan kenyamanan. Penyimpangan pola berjalan berupa circumduction juga tidak lagi ditemukan.
Namun, selama proses fitting masih ditemukan beberapa penyimpangan pola berjalan, seperti medial whip, lateral trunk bending, dan abduction gait. Penyimpangan tersebut berkaitan dengan penyesuaian alignment, posisi knee joint, tinggi prostesis, dan kondisi stump pengguna.
Dengan demikian, pemilihan jenis knee joint dan proses alignment memiliki peran penting dalam meningkatkan stabilitas serta kualitas berjalan pengguna transfemoral prosthesis.
Perbandingan Single Axis dan Polycentric Knee Joint
Single axis knee joint dengan manual lock dapat memberikan rasa aman karena lutut dapat dikunci. Namun, mekanisme tersebut juga dapat membatasi gerakan lutut dan menyebabkan penyimpangan pola berjalan, salah satunya circumduction.
Sementara itu, polycentric knee joint memberikan stabilitas tanpa harus selalu mengunci lutut. Perubahan pusat rotasi pada mekanisme polycentric membantu menjaga stabilitas selama stance phase dan mendukung pergerakan kaki selama swing phase.
Oleh karena itu, polycentric knee joint dapat menjadi pilihan yang sesuai bagi pengguna tertentu, terutama mereka yang membutuhkan stabilitas lebih baik saat berjalan.
Pola Jalan pada Pengguna Transfemoral Prosthesis
Pola jalan normal terdiri dari sekitar 60% stance phase dan 40% swing phase. Tahapannya meliputi heel strike, foot flat, mid stance, heel off, toe off, acceleration, mid swing, dan deceleration.
Pada pengguna dengan amputasi transfemoral, pola jalan dapat berubah karena kehilangan sendi lutut dan sebagian otot yang berfungsi mengontrol gerakan tersebut.
Saat menggunakan transfemoral prosthesis, pola berjalan dapat diamati melalui beberapa tahapan, seperti heel strike, stance, push off, dan swing.
Karena itu, desain prostesis saja tidak cukup. Jenis knee joint, alignment, kondisi stump, panjang tungkai, dan kemampuan fisik pengguna juga perlu diperhatikan.
=====
Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.
Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional
Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017
Konsultasi gratis : 081327721518
