Transtibial Prosthesis untuk Sholat: Studi Kasus Pasien Pasca Amputasi Bawah Lutut

Amputasi tungkai dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penggunaan prostesis atau kaki palsu menjadi salah satu pilihan dalam proses rehabilitasi untuk membantu pasien kembali beraktivitas secara mandiri.

Selain kemampuan berjalan, kebutuhan pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kemampuan melakukan ibadah. Hal tersebut menjadi fokus dalam studi kasus berjudul “Gambaran Pembuatan Transtibial Prosthesis untuk Sholat pada Pasien Pasca Amputasi Transtibial” yang ditulis oleh Muhammad Syaifuddin dari Program Studi Ortotik Prostetik, Poltekkes Kemenkes Surakarta.

Latar Belakang Amputasi dan Penggunaan Kaki Palsu

Amputasi merupakan tindakan pemotongan sebagian anggota tubuh yang mengalami kerusakan berat. Kondisi ini dapat terjadi akibat berbagai penyebab, seperti kecelakaan, trauma, gangren, tumor, maupun penyakit tertentu.

Pada amputasi tungkai bawah, kemampuan seseorang untuk berjalan dan melakukan aktivitas dapat mengalami penurunan. Karena itu, pasien membutuhkan rehabilitasi agar dapat kembali melakukan berbagai kegiatan secara lebih mandiri.

Salah satu bentuk rehabilitasi tersebut adalah penggunaan transtibial prosthesis atau kaki palsu untuk amputasi bawah lutut. Prostesis ini dirancang untuk menggantikan bagian tungkai yang hilang sekaligus membantu pengguna dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Namun, kebutuhan setiap pengguna tidak selalu sama. Oleh sebab itu, desain kaki palsu perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan aktivitas yang ingin dilakukan. Dalam studi kasus ini, prostesis dirancang agar pasien dapat berjalan sekaligus melakukan gerakan sholat dengan lebih nyaman.

Tujuan Pembuatan Transtibial Prosthesis

Studi kasus ini bertujuan untuk melihat penggunaan transtibial prosthesis dengan komponen sendi tipe 3R15 pada pasien yang mengalami amputasi bawah lutut.

Secara khusus, prostesis tersebut dirancang untuk membantu pasien:

  • Berjalan dengan lebih nyaman.
  • Berdiri dengan lebih stabil.
  • Melakukan gerakan rukuk.
  • Melakukan gerakan sujud.
  • Melakukan gerakan duduk.
  • Menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Dengan demikian, pembuatan prostesis tidak hanya berfokus pada kemampuan berjalan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pengguna dalam melakukan aktivitas yang penting bagi kehidupannya.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik. Artinya, penelitian dilakukan secara mendalam terhadap satu kasus tertentu yang memiliki kondisi khusus dan menarik untuk dipelajari.

Subjek penelitian adalah seorang laki-laki berusia 35 tahun yang mengalami amputasi transtibial atau bawah lutut akibat kecelakaan lalu lintas.

Pasien datang ke Klinik IPOED Kaki Palsu bersama keluarganya. Sebelumnya, pasien belum pernah menggunakan prostesis. Pasien kemudian menyampaikan keinginannya untuk memiliki kaki palsu yang dapat digunakan untuk berjalan sekaligus membantu melakukan gerakan sholat.

Proses pembuatan prostesis dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:

  1. Assessment, yaitu pemeriksaan kondisi umum pasien dan bagian tungkai yang diamputasi.
  2. Casting, yaitu pembuatan cetakan stump menggunakan gips.
  3. Production, yaitu proses pembuatan komponen prostesis berdasarkan hasil pengukuran dan cetakan.
  4. Finishing, yaitu penyelesaian dan penyesuaian bentuk prostesis.
  5. Fitting, yaitu pemasangan prostesis untuk memastikan ukuran, kenyamanan, dan kestabilannya.

Kondisi Pasien Sebelum Menggunakan Prostesis

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi umum pasien tergolong baik. Pasien tidak memiliki kondisi kesehatan yang menghambat penggunaan prostesis.

Selain itu, bagian stump atau tungkai yang tersisa juga berada dalam kondisi baik. Tidak ditemukan luka, nyeri, maupun kontraktur pada stump. Kekuatan otot tungkai pasien juga tergolong baik.

Kondisi tersebut penting karena kemampuan menggunakan prostesis tidak hanya bergantung pada alat yang digunakan. Kondisi tubuh dan kekuatan otot pengguna juga berpengaruh terhadap keberhasilan penggunaan kaki palsu.

Setelah pemeriksaan selesai, dilakukan pengukuran pada tungkai yang diamputasi dan tungkai normal. Selanjutnya, stump dicetak menggunakan gips agar bentuk prostesis dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien.

Komponen Transtibial Prosthesis

Proses pembuatan transtibial prosthesis dalam studi kasus ini membutuhkan waktu sekitar 1–2 minggu. Prostesis terdiri dari beberapa komponen utama.

1. Socket

Socket merupakan bagian prostesis yang menjadi tempat stump. Komponen ini dibuat berdasarkan cetakan stump pasien.

Dalam penelitian ini, socket dibuat menggunakan metode laminasi dengan bahan resin, fiberglass, dan katalis.

2. Shank

Shank merupakan bagian yang menghubungkan socket dengan bagian kaki. Komponen ini berfungsi sebagai struktur penghubung utama pada prostesis.

3. Sendi Tipe 3R15

Sendi tipe 3R15 digunakan untuk membantu menghasilkan gerakan fleksi dan ekstensi.

Kemampuan tersebut penting karena perubahan posisi kaki diperlukan ketika pengguna melakukan berbagai aktivitas, termasuk gerakan sholat.

4. Foot

Foot atau telapak kaki menggunakan jenis single axis foot yang terbuat dari rubber.

Komponen ini berfungsi menopang tubuh dan membantu pengguna ketika berjalan.

5. Sabuk Tambahan

Sabuk tambahan dibuat dari kulit dan dipasang pada bagian paha. Komponen ini membantu mempertahankan posisi prostesis agar tetap stabil ketika digunakan.

Hasil Penggunaan Prostesis

Setelah proses fitting selesai, tinggi prostesis disesuaikan dengan tungkai normal. Hasil pemasangan menunjukkan bahwa kedua tungkai memiliki tinggi yang sejajar.

Selain itu, pasien tidak mengalami keluhan nyeri saat menggunakan prostesis. Ketika berjalan, pasien merasa lebih nyaman dan aman.

Penggunaan prostesis juga memberikan dampak positif terhadap kepercayaan diri pasien. Pasien merasa lebih bersemangat karena dapat kembali berjalan sesuai dengan keinginannya.

Setelah kemampuan berjalan dinilai nyaman, pasien kemudian mencoba melakukan gerakan sholat menggunakan prostesis. Pasien juga mendapatkan edukasi dari ortotis prostetis mengenai cara menggunakan dan mengoperasikan prostesis dengan benar.

Kemampuan Melakukan Gerakan Sholat

Hasil observasi menunjukkan bahwa pasien mampu melakukan berbagai gerakan yang diperlukan dalam sholat menggunakan transtibial prosthesis.

Gerakan tersebut meliputi:

  • Berdiri.
  • Rukuk.
  • Sujud.
  • Duduk.

Komponen sendi tipe 3R15 membantu menghasilkan gerakan fleksi dan ekstensi. Dengan demikian, pasien dapat melakukan perubahan posisi tubuh yang diperlukan selama sholat dengan lebih mudah.

Pasien juga menyatakan bahwa prostesis memberikan kenyamanan dan stabilitas yang cukup baik, baik ketika berjalan maupun ketika melakukan ibadah sholat.

Pentingnya Kekuatan Otot dalam Penggunaan Prostesis

Keberhasilan penggunaan kaki palsu tidak hanya ditentukan oleh desain dan komponen prostesis. Kondisi fisik pengguna juga memiliki peran penting.

Kekuatan otot tungkai, terutama otot yang berfungsi untuk melakukan gerakan fleksi dan ekstensi, dapat memengaruhi kemampuan pasien ketika berjalan menggunakan prostesis.

Oleh karena itu, pemeriksaan kondisi otot menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi. Dengan kondisi otot yang baik, pengguna dapat lebih mudah beradaptasi dan mengoperasikan prostesis dalam berbagai aktivitas.

Mengapa Menggunakan Sendi Tipe 3R15?

Komponen sendi tipe 3R15 dipilih karena dapat mendukung gerakan fleksi dan ekstensi. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk melakukan berbagai perubahan posisi tubuh.

Dalam studi yang dibahas oleh Taheri dan Karimi, komponen 3R15 juga dikaitkan dengan kemampuan dan stabilitas gerakan pada pengguna prostesis.

Berdasarkan kebutuhan pasien dalam studi kasus ini, komponen tersebut digunakan untuk membantu melakukan gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk.

Dengan pemilihan komponen yang sesuai, prostesis dapat dibuat tidak hanya untuk mendukung kemampuan berjalan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan aktivitas pengguna.

Dampak Kaki Palsu terhadap Aktivitas Pasien

Penggunaan transtibial prosthesis memberikan beberapa manfaat bagi pasien. Pasien dapat berjalan dengan lebih nyaman dan juga mampu melakukan aktivitas sholat dengan lebih mudah.

Selain manfaat secara fisik, penggunaan prostesis juga memberikan dampak positif terhadap kepercayaan diri pasien. Pasien merasa lebih bersemangat karena dapat kembali melakukan aktivitas yang diinginkannya.

Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan kaki palsu sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kemampuan berjalan. Sebaliknya, kebutuhan, kondisi fisik, kenyamanan, dan aktivitas sehari-hari pengguna juga perlu diperhatikan.

=====

Amanahkan kebutuhan Kaki Palsu / Kaki Tiruan / Prostesis Bapak Ibu pada Profesional Ortotis Prostetis yang Memiliki Surat Ijin Praktik (SIPOP) maupun Surat Ijin Kerja (SIKOP).
Sesuai dengan PERMENKES NO 22 TAHUN 2013.

Dengan memiliki SIPOP atau SIKOP, berarti Profesional tersebut benar benar berkompeten dan berwenang karena :
1. Telah menempuh pendidikan formal Ortotik Prostetik D3 maupun Sarjana Terapan.
2. Lolos Uji Kompetensi.
3. Terdaftar secara resmi sebagai Tenaga Kesehatan Republik Indonesia dibuktikan dengan kepemilikan STR.
4. Memiliki tempat praktik maupun tempat kerja untuk melayani Bapak Ibu secara Profesional

Kami siap melayani secara Profesional.
SIPOP : 010/SIPOP/33.11/XI/2017

Konsultasi gratis : 081327721518